Salah satu tujuan diadakannya pelatihan karyawan adalah agar kemampuan dan kualitas karyawan dapat meningkat. Sehingga diharapkan bisa memberikan kontribusi lebih kepada perusahaan. Sekaligus meningkatkan produktivitas. 

Namun, dalam kasus tertentu, pelatihan karyawan tersebut justru tidak berhasil. Ada berbagai penyebab terjadinya fenomena tersebut. Mari kita cari tahu melalui artikel ini.


Penyebab Pelatihan Karyawan Tidak Berdampak

Ada penyebab utama yang akhirnya menghasilkan pelatihan karyawan yang tidak berdampak. 

Seperti materi yang tidak relevan dengan kebutuhan perusahaan hingga tidak ada tindak lanjut setelah pelatihan tersebut selesai dilaksanakan. Selain itu ada beberapa penyebab lainnya:

Tidak Diawali dengan Analisis Kebutuhan 

Salah satu kesalahan dari pelatihan karyawan yang tidak berdampak ini sering terjadi. Perusahaan tempat kita bekerja menentukan program pelatihan tanpa mengetahui kebutuhan karyawan terlebih dahulu. 

Training akhirnya dibuat hanya berdasarkan tren, kebiasaan tahunan, atau sekadar mengikuti program yang pernah dilakukan sebelumnya. 

Sebelum menentukan program, perusahaan sebaiknya melakukan Training Needs Analysis (TNA). 

Analisis akan membantu perusahaan untuk melihat kemampuan yang perlu ditingkatkan, masalah apa yang harus diselesaikan, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai target kerja. 

Tanpa analisis tersebut, perusahaan hanya akan memboroskan uang untuk pelatihan karyawan yang tidak bisa menyelesaikan masalah utama di lapangan. 

Materi Training Tidak Relevan dengan Pekerjaan 

Penggunaan materi yang terlalu umum atau terlalu banyak teori menyebabkan pelatihan sulit memberikan dampak secara nyata. 

Karyawan mungkin memahami materi selama sesi berlangsung, tetapi akan merasa kebingungan saat harus menerapkannya dalam pekerjaan. 

Pelatihan akan lebih mudah diterapkan jika materi dekat dengan situasi yang sedang dihadapi oleh karyawan. 

Contohnya, simulasi dan latihan sebaiknya dibuat berdasarkan pekerjaan sehari-hari, sehingga peserta dapat langsung melihat manfaatnya. 

Metode Pelatihan yang Terlalu Pasif 

Bayangkan kita harus duduk berjam-jam mendengarkan presentasi tanpa memiliki kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, atau mencoba materi yang diberikan. Kemungkinan besar kita sebagai peserta akan cepat kehilangan fokus. 

Metode satu arah seperti ini memang bisa digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi belum tentu efektif untuk semua jenis pelatihan. Terlebih jika kompetensi yang ingin dikembangkan membutuhkan praktik langsung.

Perusahaan dapat menggunakan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, permainan peran, hingga praktik langsung. 

Dengan begitu, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi ikut terlibat selama proses belajar.

Tidak Ada Dukungan dari Atasan 

Pelatihan tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab HR atau trainer. Atasan juga memiliki peran penting dalam memastikan ilmu yang diperoleh karyawan benar-benar digunakan setelah training. 

Dukungan atasan bisa diberikan dalam berbagai bentuk. Misalnya dengan memberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan baru, memberikan feedback, memantau perkembangan, atau sekadar menanyakan kendala yang dihadapi setelah mengikuti training. 

Kurangnya dukungan manajemen dapat membuat karyawan kehilangan dorongan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan. 

Training Hanya Dianggap Sebagai Formalitas 

Image Source: Pexels
Image Source: Pexels

Ada kalanya training dilakukan hanya karena sudah masuk agenda perusahaan. Karyawan hadir, materi disampaikan, daftar peserta diisi, lalu kegiatan dianggap selesai.

Jika pola seperti ini terus dilakukan, training akan sulit memberikan perubahan yang berarti. Karyawan mungkin mengikuti kegiatan hanya untuk memenuhi kewajiban, bukan karena memahami tujuan dan manfaat pelatihan tersebut.

Padahal, program pelatihan seharusnya memiliki tujuan yang jelas. Perusahaan perlu menentukan kemampuan atau perubahan apa yang ingin dicapai setelah training selesai.

Tujuan yang jelas akan membuat perusahaan lebih mudah menentukan materi, metode, sekaligus indikator keberhasilan training. 

Tidak Ada Praktik dan Penerapan Setelah Training 

Mendengarkan materi saja belum cukup. Kita sebagai karyawan perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba apa yang sudah dipelajari. 

Inilah salah satu alasan mengapa pelatihan yang terlalu berfokus pada transfer pengetahuan bisa kurang berdampak. 

Jika tidak ada kesempatan untuk mempraktikkan materi, kita bisa saja memahami konsepnya tetapi belum mampu menggunakannya ketika kembali bekerja. Karena itu, perusahaan dapat memberikan tugas atau studi kasus setelah training. 

Atasan juga bisa meminta karyawan mencoba keterampilan baru dalam pekerjaan mereka dan kemudian memberikan feedback. 

Penerapan sederhana seperti ini membantu materi training menjadi bagian dari kebiasaan kerja, bukan sekadar informasi yang didengar satu kali.

Tidak Ada Evaluasi dan Follow Up

Training seharusnya tidak berakhir ketika sesi terakhir selesai. Perusahaan perlu melihat apakah ada perubahan setelah karyawan kembali bekerja. Sayangnya, evaluasi sering kali hanya berupa formulir kepuasan peserta. 

Perusahaan mungkin mengetahui apakah peserta menyukai trainer atau materi yang diberikan, tetapi belum tentu mengetahui apakah training benar-benar mengubah cara kerja karyawan. Follow up juga diperlukan untuk menjaga agar materi tidak cepat dilupakan. 

Perusahaan bisa melakukan coaching, memberikan tugas praktik, mengadakan sesi evaluasi singkat, atau meminta atasan memantau perkembangan karyawan secara berkala. 

Saat pelatihan karyawan tidak memberikan perubahan yang berarti, maka baik karyawan maupun perusahaan bisa mendapatkan dampak yang merugikan.


Untuk itu PasarTrainer sebagai vendor pelatihan karyawan menawarkan konsultasi kebutuhan pelatihan agar tetap sasaran dan lebih relevan. 

BACA JUGA: 10 Alasan Mengapa Corporate Training Harus Diadakan Secara Berkelanjutan

Beberapa program dari PasarTrainer antara lain In-house Program, Public Program, Educational Outing/Meeting, Training Management Service (TMS), Coaching & Mentoring, hingga Learning Festiva, & Speakers. Semuanya bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. 


Referensi:

https://kantorku.id/blog/penyebab-training-karyawan-gagal/


https://surabaya.proxsisgroup.com/menguak-alasan-mengapa-pelatihan-tidak-berdampak-pada-kinerja-karyawan/


https://www.ruangkerja.id/blog/penyebab-training-karyawan-gagal-dan-cara-mengatasinya