Dalam berkomunikasi dengan rekan kerja, kita harus memiliki sikap yang asertif agar interaksi tersebut berjalan secara efektif. Sikap asertif akan membantu kita untuk meningkatkan komunikasi dengan tim dan rekan kerja.
Dengan demikian salah paham pun tidak terjadi. Saking pentingnya perusahaan juga tidak segan-segan melakukan training komunikasi dengan sikap asertif tersebut. Apa itu asertif dan mengapa penting untuk komunikasi efektif? Mari kita ulas bersama-sama.
Definisi Sikap Asertif
Sikap yang asertif dalam berkomunikasi adalah kemampuan kita dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, dan kebutuhan secara langsung dan jujur.
Tentunya tidak melanggar hak orang lain. Dengan sikap yang asertif kita akan mampu mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan tidak. Komunikasi tersebut disampaikan secara sopan dan jelas. Setidaknya ada 3 kemampuan yang diperlukan untuk menerapkan sikap asertif ini, yaitu:
- Kemampuan kita dalam menunjukkan siapa kita sebenarnya
- Kemampuan dalam mengekspresikan hak dan perasaan dengan tetap menghormati hak serta perasaan orang lain
- Kemampuan mengungkapkan apa yang kita rasakan jika dirasa perlu
Karakteristik Sikap Asertif dalam Komunikasi
Sikap asertif mempunyai beberapa ciri-ciri yang membuatnya berbeda dengan gaya komunikasi agresif. Ciri-ciri tersebut antara lain:
- Bisa menghargai orang lain
- Tegas dan jujur
- Bisa mengatakan tidak
- Bisa mengelola emosi
- Memperhatikan kontak mata dan postur tubuh
- Bisa membela diri
Pentingnya Sikap Asertif dalam Bekerja
Dengan bersikap asertif maka performa kita selama bekerja akan lebih baik. Selain itu, orang lain juga bisa merasakan manfaatnya. Itulah mengapa sikap asertif sangat penting. Ada berbagai manfaat sikap asertif yang membuatnya semakin penting, yakni:
1. Meningkatkan Kontribusi pada Kinerja Tim
Saat kita berani mengutarakan pendapat, maka kita telah memberikan kontribusi kepada tim. Kita tidak ragu menyampaikan pendapat ketika memiliki masukan atau ide yang efektif untuk diterapkan.
2. Harga Diri Lebih Meningkat
Komunikasi yang berjalan secara efektif dengan sikap asertif akan membantu kita mengurangi perasaan stres dan cemas.
Itu karena sikap asertif memungkikan kita untuk terbiasa tegas dalam penyampaian pendapat tanpa menyakiti orang lain.
Dengan demikian harga diri dan kepercayaan diri juga ikut meningkat. Kita juga bisa meningkatkan kepuasan dalam melakukan pekerjaan.
3. Memiliki Kemampuan Mengelola Stres
Sikap asertif bisa membantu kita untuk bersikap lebih tegas saat harus mengatakan “tidak”. Misalnya ketika kita diberikan tugas yang bukan tanggung jawab kita. Apalagi saat tugas lain menunggu untuk diselesaikan.
Dengan punya sikap yang tegas, maka kita bisa mengontrol beban kerja sesuai dengan kemampuan. Tentunya tindakan ini sangat bijak karena bisa mengurangi terjadinya stres.
4. Miskomunikasi Berkurang
Komunikasi secara asertif juga mampu mencegah terjadinya miskomunikasi dan mispresepsi.
Dengan demikian komunikasi yang kita lakukan akan berjalan lancar, bisa mencapai tujuan, dan menciptakan win-win solution atau menguntungkan semua pihak yang terlibat.
Cara Menerapkan Sikap Asertif dalam Komunikasi
Bagi beberapa orang sikap asertif mungkin memang sudah ada pada dirinya. Namun untuk sebagian lainnya, sikap asertif perlu dilatih.
Baik itu dari perusahaan dengan training komunikasi atau coba dipelajari sendiri. Tidak perlu khawatir, mari kita pelajari bersama-sama cara berkomunikasi dengan sikap asertif tersebut:
1. Menghargai Diri Sendiri
Sebelum bisa bersikap asertif, kita harus bisa menghargai dan memahami diri sendiri terlebih dahulu.
Keduanya akan membantu kita untuk lebih sadar bahwa kita pantas diperlakukan dengan bermartabat dan hormat. Sikap tersebut juga dapat meningkatkan kepercayaan diri kita agar bisa membela hak-hak dan melindungi batasan kita.
2. Latihan Menolak
Dalam hal ini adalah mengatakan “tidak”. Bagi people pleaser, tindakan ini akan sulit. Namun agar bisa meningkatkan sikap asertif, maka kita harus mulai berlatih berkata tidak pada sesuatu yang tidak kita sukai atau memberatkan diri.
Mulai belajar berterus terang tentang batasan, tanggung jawab, dan kebutuhan. Dengan demikian rekan kerja bisa memahami alasan dari penolakan kita terhadap suatu permintaan. Kita juga bebas dari rasa bersalah.
3. Memperhatikan Bahasa Tubuh
Komunikasi non-verbal juga harus diperhatikan. Misalnya dengan menggunakan bahasa tubuh secara tepat.
Postur tubuh kita harus tegap, bisa melakukan kontak mata, mempertahankan ekspresi positif, dan jangan menyilangkan kaki atau lengan saat komunikasi berlangsung.
Bahasa tubuh yang baik akan memberikan kita kepercayaan diri, ketegasan, dan komunikasi berjalan lebih efektif.
4. Mengendalikan Emosi
Ketika kita dihadapkan pada situasi yang kurang baik, mungkin kita bisa merasa frustrasi, marah, atau ingin menangis. Tidak apa-apa jika kita merasakan emosi tersebut.
Namun, coba sebisa mungkin mengendalikan emosi dengan bersikap tenang dan menjaga intonasi suara. Salah satu caranya dengan menunggu emosi mereda sebelum kembali menghadapi situasi tersebut.
Perlu diingat bahwa bersikap asertif dalam komunikasi tidak bisa dilakukan sebentar. Perlu waktu dan dukungan.
Untuk itu tidak ada salahnya jika L&D Perusahaan memberikan training komunikasi bagi karyawan yang ingin upskilling dengan mengikuti pelatihan dari PasarTrainer.
Training komunikasi tersebut bertajuk “Effective Communication: Keterampilan Asertif sebagai Kunci Komunikasi”. Dengan demikian peserta bisa paham konsep dasar dan prinsip utama komunikasi efektif, menyadari hambatan komunikasi yang sering muncul.
Kemudian meningkatkan kemampuan menyampaikan pesan dan mengembangkan keterampilan mendengarkan secara aktif.
PasarTrainer juga memiliki program training komunikasi lainnya yang bisa kita temukan.
Referensi:
www.alodokter.com - arti sikap arsetif dan 5 cara mempelajarinyaid.jobstreet.com - sikap asertif definisi cara melatih penerapan
binus.ac.id - asertif skill penting memasuki dunia kerja
www.halodoc.com - perilaku asertif tips jitu komunikasi efektif
www.bkn.go.id - komunikasi asertif jalan menuju lingkungan kerja yang sehat dan kondusif
