Mungkin kita pernah mengalami secara langsung atau mendengar cerita tentang manajemen yang mengontrol timnya secara berlebihan.
Bahkan sangat berfokus pada detail kecil. Namun, detail tersebut muncul karena manajemen tidak percaya dengan hasil kerja tim. Itulah situasi yang dinamakan micromanage.
Pendekatan ini sangatlah kaku sehingga menimbulkan banyak dampak negatif kepada para pekerja. Dalam artikel ini mari kita mempelajari lebih dalam mengenai apa itu micromanage dan dampak nyatanya.
Pengertian Micromanage
Jadi, micromanage merupakan pola dalam manajemen yang melibatkan pengawasan terhadap kinerja bawahan secara intensif. Misalnya, ketika kita mendapatkan tugas, atasan menjelaskan apa yang perlu dilakukan sekaligus memberikan tuntutan pembaharuan dan detail kecil dari progres pekerjaan kita.
Bagi sebagian karyawan, pola ini begitu berlebihan. Gaya kepemimpinan micromanage umumnya lahir karena tidak adanya rasa percaya kepada kemampuan tim atau merupakan pemimpin yang mempunyai kecenderungan perfeksionis yang berlebihan.
Niatnya memang baik, tetapi micromanage seringkali justru menjadi penghalang karyawan untuk produktif dan berinovasi.
Ciri-Ciri Gaya Kepemimpinan Micromanage
Seorang pemimpin yang micromanage biasanya memiliki ciri-ciri berikut ini:
- Tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja karyawan sehingga cenderung memberikan kritik. Namun, kritik tersebut justru tidak membangun.
- Menunjukkan emosi frustasi secara berlebihan di hadapan karyawan dan sudah masuk ranah tidak profesional
- Tidak memberikan penghargaan terhadap hasil akhir, atasan yang menerapkan micromanage biasanya lebih memberikan perhatian terhadap detail kecil selama proses pengerjaan
- Sering bertanya lokasi dan kegiatan setiap anggota tim. Bahkan pada aktivitas yang sepele.
- Seorang micromanager justru sering memberikan interupsi terhadap pekerjaan alih-alih memberikan ruang untuk bekerja. Biasanya mereka akan meminta laporan kemajuan pekerjaan.
- Merasa bahwa hanya dirinya lah yang mampu menyelesaikan tugas dengan tepat. Sehingga sulit untuk melakukan delegasi tugas.
- Cepat memberikan koreksi dan kritik bahkan untuk hal-hal kecil. Komentar tersebut justru menurunkan kepercayaan diri karyawan.
Dampak Negatif Pemimpin yang Menerapkan Micromanage

Karena gaya kepemimpinan yang kaku ini, micromanage justru memberikan dampak negatif terhadap karyawan. Apa saja dampak yang dimaksud? Berikut beberapa contohnya:
Motivasi dan Kreativitas Menurun
Dampak pertama dari micromanagement adalah menurunkan motivasi karyawan bahkan bisa secara signifikan.
Tidak hanya itu, saat karyawan kehilangan kepercayaan diri karena merasa tidak mendapatkan kepercayaan atasan, maka cenderung kehilangan kreativitas dan inisiatifnya.
Efisiensi Kerja Ikut Menurun
Gaya kepemimpinan yang menerapkan micromanage juga menyebabkan efisiensi kerja karyawan menurun. Alasannya karena waktu manager habis digunakan untuk mengawasi hal-hal detail, alih-alih berfokus pada rencana strategis.
Studi dari Gallup menemukan bahwa tim yang dikelola dengan berlebihan mempunyai level keterlibatan karyawan 28 persen lebih rendah dibandingkan tim yang diberikan kepercayaan lebih oleh atasan.
Pertumbuhan Perusahaan Menjadi Terhambat
Karena seorang pemimpin yang menerapkan micromanage cenderung mengandalkan pemikirannya dan mengabaikan ide tim, maka pertumbuhan perusahaan pun bisa terhambat.
Padahal, saran dari kita sebagai karyawan bisa menjadi sumber inovasi yang signifikan bagi kemajuan bisnis perusahaan.
Stres Karyawan Meningkat
Pengawasan yang dilakukan terlalu ketat bisa menyebabkan tekanan pada karyawan maupun atasan.
Bahkan studi juga menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan menyebabkan produktivitas menurun sampai sepuluh persen.
Menurunkan Rasa Percaya Diri Karyawan
Pengawasan yang dilakukan terlalu ketat bisa menyebabkan karyawan merasa tidak memiliki kepercayaan diri dari atasannya.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut bisa menyebabkan karyawan ragu terhadap kemampuan dan keputusan yang dibuat sendiri.
Menghabiskan Waktu dan Energi
Terlalu banyak memperhatikan hal-hal kecil dapat membuat perhatian tim teralihkan dari pekerjaan yang lebih penting.
Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan tugas utama justru tersita untuk proses pengawasan atau urusan yang kurang mendesak.
Meningkatkan Risiko Turnover
Tidak semua karyawan dapat bekerja dengan nyaman dalam lingkungan yang penuh pengawasan.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, sebagian karyawan mungkin merasa tidak cocok dan mulai mempertimbangkan untuk mencari kesempatan kerja di perusahaan lain.
Mengganggu Hubungan dalam Tim
Micromanagement dapat membuat hubungan antara atasan dan anggota tim menjadi kurang sehat. Ketika karyawan merasa terus dicurigai atau tidak diberi ruang untuk bekerja secara mandiri, rasa percaya dan komunikasi dalam tim dapat ikut terganggu.
Menghambat Efisiensi Kerja
Proses kerja bisa menjadi lebih lambat ketika karyawan harus terus membuat laporan, meminta persetujuan, atau menunggu arahan untuk hal-hal yang sebenarnya dapat mereka tangani sendiri. Akibatnya, penyelesaian tugas menjadi kurang efisien.
Micromanagement mungkin muncul dari keinginan atasan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai harapan. Namun, pengawasan yang terlalu jauh justru dapat berdampak pada kepercayaan diri karyawan, hubungan dalam tim, hingga efisiensi kerja.
Karena itu, penting bagi pemimpin untuk menemukan keseimbangan antara memberikan arahan dan memberi ruang bagi karyawan untuk menjalankan tanggung jawabnya.
Dengan kepercayaan, komunikasi yang terbuka, serta pembagian tugas yang jelas, tim dapat bekerja lebih mandiri tanpa kehilangan arah dalam mencapai tujuan bersama.
Untuk menghindari terjadinya micromanage pada lingkungan kerja, dibutuhkan training leadership. PasarTrainer memiliki banyak materi terkait training leadership yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita.
BACA JUGA: Pentingnya Training Leadership untuk Upskilling Karyawan
Misalnya ada The Empowering Leader: Building Interdependent & High-Skill Teams, Leading Team With Confidence Through Motivation & Competence, dan masih banyak lagi. Kita bisa cek semua training leadership tersebut dalam halaman All Leadership & Soft-Skills Training.
Referensi:
https://glints.com/id/lowongan/micromanage-adalah/https://dealls.com/pengembangan-karir/micro-manage-adalah#selalu-ingin-tahu-kegiatan-tim
https://www.talenta.co/blog/micromanaging-dengan-ciri-ciri-dampak-buruknya/
https://kantorku.id/blog/micromanagement/

