Kritik menjadi salah satu feedback yang bisa kita dapatkan setelah menyelesaikan suatu pekerjaan. Kritik memang memberikan pandangan baru untuk evaluasi dan pengembangan diri, tetapi setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menghadapinya. 

Ada yang tenang, ada juga yang emosi. Apalagi ketika deadline menumpuk dan tubuh yang sudah capek. Namun tenang, bukan berarti kita tidak bisa mengontrol emosi dan menerima kritik. 

Ada beberapa cara yang bisa kita terapkan untuk menerima kritik tanpa melibatkan emosi. Apa saja cara tersebut? Mari kita cari tahu bersama-sama.


Cara Bijak Menerima Kritik Tanpa Emosi

Sumber: Freepik 

Kritikan yang kita terima bisa bermanfaat. Kritik yang bersifat konstruktif akan membantu kita lebih memahami kekurangan, sudut pandang lain, hingga menemukan solusi terbaik.

Tanpa adanya kritik, kesalahan bisa terjadi lagi dan perkembangan kita sebagai individu dapat terhambat. 

Namun tidak bisa dipungkiri kadang kita bisa menanggapinya dengan melibatkan emosi. Agar emosi dapat diredam, berikut cara untuk menerima dan menghadapi kritik tanpa emosi:

1. Mendengarkan Tanpa Menyela 

Tindakan ini mungkin cukup sulit. Namun mendengarkan kritik secara aktif tanpa kita sela akan menunjukkan sikap dewasa dan juga rasa hormat kita kepada mereka yang memberikan kritik. 

Selain itu, kita tidak bisa langsung memberikan kesimpulan sebelum benar-benar memahami maksud dari kritik secara keseluruhan. 

Penerimaan kritik secara terbuka memungkinkan kita dapat menganggap kritik sebagai saran yang membangun. Dengan demikian, kita bisa memanfaatkan kritik untuk melakukan evaluasi diri. 

2. Coba Mengambil Sikap Tenang 

Merespon kritik dengan melibatkan emosi akan menyebabkan suasana menjadi tidak enak. Pesan dari kritik pun tidak bisa tersampaikan dengan baik kepada kita. Maka dari itu penting untuk mengambil waktu sejenak dan mencerna pesan kritik yang kita dapatkan. 

Kita bisa mencoba menarik napas secara dalam dan menghembuskannya perlahan. Walaupun kelihatannya sederhana, cara tersebut cukup efektif untuk membuat kita lebih tenang. 

Setelah emosi sudah stabil, kritik yang kita dapatkan bisa kita evaluasi dengan lebih jernih dan menjadi dasar perbaikan. 

3. Melihat Sisi Positif dari Kritik 

Kita tetap harus menghargai kritik yang diberikan oleh atasan atau rekan kerja. Daripada menanggapinya dengan emosi hingga terbawa perasaan, coba gali apa yang bisa kita dapatkan dari kritik tersebut. 

Misalnya, kita bisa mengetahui bagian yang harus dikembangkan atau diperbaiki. Dengan begitu, kualitas pekerjaan kita menjadi lebih baik. 

Hindari berpikir bahwa kritik adalah bentuk pesan negatif dari orang yang tidak menyukai kita. Anggap saja kritik tersebut sebagai kepedulian mereka terhadap kita agar kita dapat mengeluarkan potensi lebih maksimal. 

4. Bertanya Mengenai Kritik yang Didapatkan 

Setelah kita memahami kritik yang diberikan, kita bisa coba bertanya untuk klarifikasi. Mungkin kita setuju dengan kritik tersebut atau tidak menduga bahwa akan menerima kritik tersebut. 

Kita memiliki hak untuk bertanya dan berdiskusi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Apa yang bisa kita tanyakan? Banyak, misalnya contoh, konteks, hingga saran. 

5. Mencatat Poin Kritik 

Dengan mencatat akan memungkinkan kita untuk bisa membedakan antara kritik konstruktif dan sekadar emosi dari pemberi kritik. Intinya catatan tersebut akan membantu kita melakukan refleksi. 

6. Menunjukkan Rasa Terima Kasih Kepada Pemberi Kritik

Tidak ada salahnya untuk berterima kasih kepada pemberi kritik. Untuk bisa melakukannya, kita perlu benar-benar paham bahwa kritik yang disampaikan bertujuan untuk membangun kita lebih baik. 

Bahkan menjadi pesan positif untuk karier kita ke depannya. Ingat juga, kadang mereka yang memberi kritik merasa canggung saat harus menyampaikan pesan tersebut kepada kita. Selayaknya kita yang menerima kritik. 

7. Hindari Meratapi Pesan Kritik 

Kadang saat menerima kritik, kita akan merasa hasil kerja yang menguras tenaga dan pikiran menjadi sia-sia. Sehingga memunculkan rasa tidak berharga karena gagal menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna. 

Akhirnya kita akan meratapi kritik tersebut bahkan berpengaruh terhadap hasil kerja selanjutnya yang makin menurun. 

Jika kita biarkan, seiring berjalannya waktu kondisi tersebut akan membahayakan karier kita. 

8. Memperhatikan Bahasa Tubuh 

Bagaimana kita bersikap dengan bahasa tubuh juga bisa menunjukkan apakah kita menerima kritik dengan emosi atau tidak. Bahasa tubuh seperti menyilangkan tangan ataupun membuang muka akan menyebabkan suasana semakin tegang. 

Kita juga tampak defensif. Maka dari itu kita perlu berusaha tetap menatap mata, memperhatikan tiap kata, dan menunjukkan sikap terbuka. 

Menerima kritik tanpa melibatkan emosi sangat penting untuk menjaga performa dan suasana lingkungan kerja. Sebagai L&D perusahaan dan karyawan yang ingin upskilling, memiliki kecerdasan emosi menjadi penting mengingat kita bisa saja sering menghadapi kritik. 

Oleh karena itu, kita perlu mengikuti training komunikasi “Emotional Intelligence for Trust, Collaboration & Positive Leadership” dari PasarTrainer

Training komunikasi tersebut akan membantu kita lebih mengenali emosi, pemicu, pola reaksi, pengelolaan emosi, komunikasi dengan empati, hingga penerapan kecerdasan emosional. 

Selain itu, PasarTrainer juga memiliki training komunikasi lain yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan. Kita hanya perlu mengunjungi tautan All Training Komunikasi Program untuk menemukan pelatihan yang kita perlukan.


Referensi:

hellosehat.com - cara menerima kritikan


www.idntimes.com - langkah menyikapi kritik pedas di dunia kerja


glints.com - menerima kritik di tempat kerja


myrobin.id - cara menerima kritikan


toploker.com - cara efektif memberikan dan menerima kritik di tempat kerja


kumparan.com - 4 cara bijaksana menerima kritik untuk tingkatkan karier